Jumat, 24 Desember 2010

here are my friends

berhedon sampai pagiiiii HAHAKS

@ moviebox

photo by IMEL. aku gak ikut foto :(

popo-imel-dita-zira *karaokean di ulang tahun Novi :)
teacher of us, NENDIIIII
yang disebelah aku itu Dita, not first friend but she is my best :)

uang arisan

Meri tampak panik setelah kembali dari kantin. Dompet, baju olahraga, buku pelajaran, tempat makan, tempat pensil, dan minum yang sudah tersusun rapi di dalam tasnya kembali keluar. Ia tidak menghiraukan berpuluh puluh mata yang memasang tampang heran melihatnya. “loe kenapa sih?” chairmatenya mengeluarkan suara yang pertama. “Uang kas ilang mel. Cepe ribu alias seratus ribu. Bantu gue cari doong!” dengan masih mengodok ngodok kolong setiap meja ia menjawab Meli. Semua temannya dengan sigap ikut membantunya. Tapi sayang, hasilnya nihil. Gak ada. Nothing.


Meri berjalan lesu di koridor sekolah. Huh, mimpi apa sih gue? Kok uang arisan bisa ilang yah? Tega banget sih yang ngambil. Jatah ke dufan gue masa buat gantiin tuh duit. Gak jadi dong ke dufannya. Oalaaahhhh. Merie tampak kesal dengan raut muka yang sedih.
“Mer! Heh! Ngapain loe?” Meri menoleh, dilihatnya Angga sudah berdiri di sebelahnya. Meri tetap berjalan tanpa menghiraukan sapaan Angga. “Meri, gue punya berita penting tentang uang kas.” Mendengar 2 kata itu, uang kas, Merie langsung diam, tidak melanjutkan langkahnya lagi. Ini masalah penting. “kenapa ga?” Angga senyam senyum mendapat perhatian Meri.
“gue tau siapa yang ngambil uang kas itu.” Meri menatap Angga penuh rasa penasaran. “Anti. Sahabat loe itu.”
“HAAAAAAAAAAAHH?” mulut Meri ternganga lebar. Angga hanya mengangguk ngangguk lalu pergi meninggalkan Meri yang masih cengo. Mempertontonkan giginya yang gingsul.


Tooootooootooot. Bel tanda istirahat berbunyi.
“Meri, loe udah tau ya yang ngambil uang kas siapa?” tak ada jawaban dari Meri. “loe yang sabar yah.” Manda mengelus elus pundak Meri.
“loe tuh apa-apaan sih? Main tuduh orang aja. Gak mungkin tau gak dia yang ngambil duitnya.”
“kalo loe gak percaya, Tanya langsung aja ke dia Mer, biar jelas.” Suruh Angga. “orang gue, Radith, sama si Ambon liat kok kemaren. Pas lagi maen Uno, dia malah pergi ke tempat loe. Gue juga liat dia buka tas loe.” Radith dan si Ambon mengangguk. Merie diam tampak berpikir. “oke, gue tanya langsung ke dia, gue bakal buktiin kalo dia gak salah. Bweeeek.” Merie bangun dari duduknya lalu berjalan ragu ke tempat Anti.
“ti, gue boleh nanya sesuatu gak sama loe? Tapi jangan marah ya? Gue cuman nanya loh.”
“Tanya aja lagi mer. Kenapa?”
“emmm..” Meri gak yakin sama keputusannya kali ini. “ti, emm.. loe gak ngambil uang kas kan?” Anti terlihat kaget mendengar pertanyaan dari Meri. “loe..” Anti menunjuk tepat di muka Merie. “loe tega nuduh gue mer? Loe kira gue siapa sih? Yang butuh duit malah nyuri? Gue bukan orang miskin yang gak bisa usaha mer!” Anti mengambil tasnya lalu berlari pergi meninggalkan kelas. Sambil menangis. “Anti!” Tidak jauh berbeda dengan Meri, ia pun menangis. Menyesali perbuatannya kali ini. Ada apa ini? Kesialan lagi ngikutin gue ya? 2 hari yang pengen gue hapus dari hidup gue. Meri terduduk lesu, menutupi mukanya dengan tangan. “gue gak maksud nuduh loe, ti.”


Hari baru telah dimulai. Tidak ada mimpi yang special tadi malam dalam tidur Meri. Semoga hari ini akan baik-baik saja. Semoga keadaan akan kembali seperti semula. Meri menghembuskan napas panjang lalu berjalan PD menuju kelas seperti biasa.
Oh no! semua tidak baik-baik saja. Hawa pertama masuk kelas tidak seharusnya begini. Tegang, rasa takut, marah, semua menjadi satu. Meri melihat ke arah Anti, tapi Anti yang melihatnya hanya membuang muka tak acuh. “udah, mer, nanti pulang sekolah kita bantu loe minta maaf sama Anti. Ok? Kita juga sedih ngeliat loe kaya gini. Gak biasanya lo ke sekolah pasang mata sembap kayak gitu, biasanya kan berbinar.” Merie tersenyum mendengar kalimat Manda yang bernada jahil.
Meri terus melihat ke arah jam yang terpasang di dinding belakang kelas. Ia tidak henti hentinya minta ijin ke toilet. Entah apa yang dilakukannya. Kadang, ia hanya ingin jalan jalan sebentar, atau mencubit lengannya sekeras mungkin saat sampai di kamar mandi, sekedar untuk memastikan kalau ini bukan mimpi lalu menangis setelah menyadari ini bukan mimpi. Sahabatnya selama 4 tahun tidak mau berbicara dengannya karena kebodohannya.
Akhirnya jam pun menunjukan pukul setengah tiga tepat. Bel pulang pun berbunyi. Manda menahan Anti agar ia tidak pulang dan membawanya ke pojokan kelas. “Anti.” Meri menghampirinya. Suasana sudah seperti ada seorang cowok yang ingin nembak cewek. Oh bukan bukan, suasana ini lebih tegang daripada itu.
“gue minta maaf ti.” Air mata Meri mengucur begitu saja tanpa bisa ia tahan. “gue kecewa tau gak sama loe. Gue gak percaya temen yang gue percaya selama ini malah nuduh gue. Dia lebih percaya sama temennya yang lain, yang baru 1 tahun dia kenal, bahkan mungkin belum bisa dibilang kenal.”
“gue gak pernah bermaksud nuduh loe ti.”
“terus itu apa namanya? Loe tuh nanya ke gue sama aja loe nuduh gue. Loe gak percaya sama gue.” Anti terlihat menahan air matanya. “gue minta maaf, ti. Gue tau kalo ada di posisi loe sekarang gue juga pasti sakit hati. Gue minta maaf atas semua kebodohan gue. Gue tau gak seharusnya gue kaya gini.”
“Iya sih, loe juga mer, jahat banget tau. Masa sahabat loe sendiri loe tuduh? Kalo gue jadi Anti gue juga gak akan mau maafin loe.” Meri diam mendengar ucapan Kani. “emang loe tuh tau dari siapa sih mer?”
“Angga yang bilang ke gue.”
“Angga! Loe bilang apaan ke Meri? Parah banget sih. Mau ngadu domba?”
“Apaan sih? Orang gue bilangnya gue ngeliat Anti di meja Meri, gak berarti dia yang ngambil duitnya dong.” Meri kaget yang sangat amat mendengar pernyataan dari Angga. “Angga loe bohong.” Bantah Meri. “Man, loe bantuin gue dong. Loe denger Angga nuduh Anti kan?” Manda menggeleng. “gue gatau Mer.” Meri tampak lemas, “Dith? Ambon!” semuanya menggeleng. Ada apa ini? Kenapa semua orang balik memojokkanku? Meri memandang semua temannya satu persatu. Entah apa arti sorot matanya itu. Tampak kesedihan yang disertai kemarahan dan kekecewaan yang mendalam.
“loe tuh maunya apa sih Mer? Sekarang loe nuduh Angga yang ngambil duitnya? Parah loe. Jangan-jangan malah loe lagi yang ngambil duitnya, terus nuduh temen loe supaya kedok loe ketutup?” Meri hanya menggeleng. Ia tidak mau lagi membela dirinya. Ia hanya meneteskan air mata dengan tatapan yang kosong. Belum pernah Meri terlihat seperti ini. Putus asa, kecewa, marah. “maaf, maafin gue ti, gue gatau lagi mesti ngomong apa? Orang yang nyaranin nanya ke loe aja udah gak ngaku. Gue cuman bisa minta maaf.”
“loe nyindir gue bukan mer? Loe tuh ya bener-bener tau gak!”
“CUKUP MAN! Gue gatau apa yang sebenarnya terjadi di sini. Kenapa kalian boong sama gue. Kenapa kalian yang tadinya bilang mau bantuin gue malah ngejatohin gue. Gue gak ngerti. Cukup semuanya. Gue mohon.” Meri meluapkan kemarahannya. “Gue minta maaf ti.”
“Mer, gue gatau siapa yang boong dan ngga disini. Gue butuh waktu buat maafin loe. Gue sakit hati. Dan mungkin kalau pun gue maafin loe, kita gak mungkin kaya dulu lagi. Ketawa tanpa beban bareng, nangis bareng, shopping, gak mungkin.” Meri menatap Anti. Apa yang sudah dikatakannya membuat Meri semakin menyesal. “gue tau, gue gak bisa berharap banyak, dimaafin pun mungkin harapan yang terlalu besar.” Meri berdiri, mengambil tasnya, dan berjalan ingin keluar dari kelas, ia hanya ingin pulang dan tidur. Hari ini terlalu berat baginya. Merie membuka pintu kelas yang tertutup rapat dengan muka lesu.
HAPPY BIRTHDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAY!” Naning, teman sekelasnya membawa kue dengan 16 lilin di atasnya. Merie yang tidak tahu apa-apa menangis terduduk. Ini hari ulang tahunnya, 8 april.
“Meri, maafin kita yah?” Meri mengangguk ngangguk masih menangis. “gue kira, gue udah gak punya temen lagi. Gue gatau besok gimana, atau lusa, lusa lagi, lagi, lagi..”
“iya, iya, udah jangan nangis yah? Kita sahabat selamanya kok. Apapun yang terjadi. Yah?” Anti memeluk Meri. “Mer, ini hadiah dari kita buat loe.” Manda, dalang dari semua ini menyerahkan satu bungkusan besar yang segera Meri buka. Darts. Wow. “makasi yaa.” Tawa renyah Meri kembali mengembang. “iya, kita tau loe lagi pengen darts banget kan?” Meri masih memandang gak percaya kalo sekarang dia punya Darts dan abis dikerjain abis-abisan sama temen sekelasnya. Parah. Kok bisa ya? Padahal ngerjain temen yang ultah itu udah jadi kebiasaan mereka. Dasar bodoh. “Mer, sampe lupa. Nih uang kasnya.” Meri gemes banget sama temen-temennya. Ternyata semuanya boong. “Awas aja. Lain kali gue bales kalian!” Meri berapi-api.
Plok! Krim putih kue ulang tahun Meri mendarat tepat di muka Meri. “Anggaaaaaaaa!” Meri mencoel kuenya dan lari mengejar Angga diikuti dengan teman temannya yang mengejar Meri. Gak lupa juga sama Bu Ampri yang ikut lari sambil marah marah ngeliat kelakuan kita. Maafin kita ya Bu Ampri :D
Welcome Sixteenth!~

April 2008

well, yes, it's a home

dua minggu berada dikota ini, menjadi bagian dari fakultas ekonomi terasa berat banget. individualisnya berasaaa banget, keinginan untuk menjadi yang terbaik dan menyingkirkan semua orang juga wow. ngebuat aku pengen lari kenceeeeeeeeng banget trus tidur dan gak bangun lagi. *heeem yang ini lebay deng*

tapi, now I realize. it's all just because I'm not ready yet. ketika aku merasa aku harus bisa dan benar2 mayakinkan diri aku. aku mulai terbiasa dengan semua hal tentang kampus ini, bagaimana orang berinteraksi, bagaimana agar diterima disini. yes, just say, "I'm ready to beat all of you" grrrrr

yes, now, I'll say "I like be in here :D and I am excited."

Kamis, 16 Desember 2010

look at my new family (!)

at dixie Yogyakarta, makaaaaaaaaaaaaan :))

itu yang cowo pacarnya mba Gita, mas Boykeee .say Hi! ")

kalau yang baju putih itu mas Kiki, pacarnya mba Maya, say Cheese ;)
LOVE LOVE B15 :D
mba Zara, mba Dea (yang berdiri sebelah kiri), mba Gita, mba Anin, mba Maya, -aku-, mba Winda

Sabtu, 04 Desember 2010

come on, survive!

:)
:)
:)
:)
:)
smile is everything you need .
remember, there's so much people who wants in your position .
so, why runaway?
     face it .

please, just one day

heyy !
it's been weeks or even months that I dont hear about anything, anyone. cant watch movies, films, sing a song and dance in my room.
       I MISS EVERYTHING IN ME 
I was trying to be okay but I know I'm not .
I was trying to feel fine but I know I'm not .

I just ask for a day .
when I can be free and no need to think .

I MISS MY DAY ..

Translate ;))