Tapi ternyata
Aku hanya membuat kata semakin berantakan
Aku pikir aku pandai mengelola senyum
Tapi ternyata
Aku hanya membagikan senyum tanpa punya arti
Aku pikir aku pandai meredam emosi
Tapi ternyata
Aku hanya menjadikan emosi sebagai bom waktu
Aku pikir aku terlalu banyak berpikir
Entah sejak kapan aku mulai berpikir
Aku berpikir bagaimana menjadi cantik
Aku berpikir apa yang kulakukan salah atau benar
Aku berpikir apa orang akan menyukaiku atau tidak
Aku berpikir apa yang harus kulakukan besok
Tapi bukankah pikiran-pikiran itu yang justru membatasi imajinasi?
Bukankah pikiran itu yang dapat menghalangi kita untuk melakukan sesuatu?
Seperti sekarang ku ingin menyapamu
Aku terus berpikir
Apakah pantas aku sapamu terlebih dahulu?
Apakah pantas aku menyukaimu?
Apakah pantas aku memimpikanmu menjadi imamku?
Iyah, sayangnya pikiran itu akan selalu ada
Gerbang antara logika dan hati
xoxo,
imeliacynthia