Senin, 07 Mei 2012

(Mungkin) Tidak Berjodoh

Ada saat dimana dua sejoli saling menikmati kisah diantara mereka. Kata kebanyakan orang, saat itu ialah saat dimana dunia hanya milik berdua. Omongan yang keluar dari mulut orang lain akan berjalan masuk ke telinga kanan lalu mengikuti cahaya terang ke arah telinga kiri dan berakhir keluar kembali bersama angin. Bukan maksud ingin menyepelekan, tetapi saat dua sejoli mabuk kepayang, saat itu mereka membentuk dunia mereka tanpa mau ada orang yang masuk berkontribusi. 

Sayangnya, dua sejoli ini tidak memiliki kisah kasih yang sama seperti kebanyakan sejoli-sejoli lainnya. Mereka tidak memiliki status, mereka tidak memiliki hak untuk marah satu sama lain, mereka tidak memiliki hak untuk merasa saling memiliki, mereka... hanya tidak memiliki hak antara satu dengan yang satunya. 

Inikah yang dinamakan percintaan saat beranjak dewasa? Seperti yang salah satu dosenku bilang, "saat kalian beranjak dewasa dan menapaki umur 20, kalian akan mencari satu sosok dan berpikir siapa dia, bukan lagi siapa aku yang akan memacari seorang dia." Inikah yang dinamakan berlogika saat mencintai? Saat ingin sekali mengikuti perasaan namun begitu sulit.

Dua sejoli ini memiliki kerangka berpikir yang hampir sama bahwa mereka tidak pantas untuk menjadi sepasang kekasih satu sama lain. Entah karena begitu banyak kekurangan, entah karena banyaknya kelebihan, entah karena siapa 'dia' dan siapa 'aku'. Then, who care? well, the guy does. Hal inilah yang membuat tembok besar berada di antara mereka. Tanpa disadari, dialah yang membangun tembok itu. Perasaan akan ke'tidakpantasan'nya untuk bersama dengan si wanita. Hal ini yang berakar menjadi ke'tidakpercayaan' si wanita terhadap pria itu. Dua sejoli yang terlalu banyak berpikir untuk menjadi satu.

Akan tetapi tembok itu tidak dibangun sekokoh pemikirannya. Perasaan kuat dari dua sejoli ini membuatnya rapuh lalu hancur sedikit demi sedikit karena kedekatan mereka. Keropos menjadi serpihan kerikil yang sulit tertiup angin. Jika kedekatan ini hanya untuk sementara, ketika tembok telah runtuh maka akan terbangun tumpukan kerikil yang kembali menjadi penghalang di hadapan mereka. Tapi, entah alasan apa yang membuat mereka terus mempertahankan tembok itu. Hanya masing-masing dari merekalah yang tau. 

Hari ini, pria itu menarik dirinya keluar untuk menjauh. Mungkin inilah, saat dimana dia tau kalau jarak mereka sudah terlalu dekat. Inikah yang dia inginkan? Bahkan meruntuhkan tembok untuk menjadi kerikil saja tidak ia lakukan. 

ini, untuk dia.
pria tidak bernama dari wanita yang (mungkin) tidak akan menunggu.

2 komentar:

Translate ;))