Tatkala aku melihat hujan, aku ingat dia duduk di depan teras rumah. Menunggu kedatanganku untuk bermain dengan hujan.
Jika air yang menetes dari langit terlalu kecil, dia akan masuk ke dalam rumah. Mengambil secangkir teh hangat dan es krim. Dia akan memberikan semangkuk es krim itu padaku. Katanya, aku akan kedinginan dan dia akan menghangatkanku. Tapi, aku tidak pernah memakan es krim yang dia berikan di setiap waktu itu. Aku akan merebut teh hangat di tangannya, lalu dia akan menahan gelasnya. Dia tidak mau memberikanku teh hingga teh itu tumpah. dan dia bilang, "yah, aku tidak bisa menghangatkanmu lagi."
Jika hujan yang turun sangat lebat, aku dan dia akan berlari sekencang mungkin. Mengitari komplek perumahan dan menari bernyanyi bak film india. "lalalalalaa.. kita slalu bersama." nyanyian tanpa nada itu menjadi lagu favoritnya ketika aku asik bernyanyi libur telah tiba yang dipopulerkan oleh tasya. Bagaimanapun, aku dan dia sangat menikmati kebersamaan tawa renyah diantara kami.
Hari ini, ketika hujan sedang turun dengan lebat. Aku ingat padanya dan pergi melewati rumahnya. Seperti dugaanku, ia sedang menekuni hobinya sedari kami kecil, dia sedang duduk di teras, bermain dengan hujan. Bersama anak semata wayangnya, kamila. Aku berniat akan melangkahkan kakiku untuk mampir sekedar mengatakan halo padanya. Tapi, langkahku terhenti ketika seorang wanita keluar dari balik pintu. Membawa dua cangkir teh hangat dan meletakkannya di meja. Kini, aku mengurungkan niat. Kami sudah bukan lagi anak kecil yang bermain dengan hujan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar