Jumat, 19 Agustus 2011

missing him missing not

ketika jari-jari tangan ini tidak bisa lagi mengisi kerenggangan diantara jemarinya, setidaknya aku masih memiliki dua pasang mata untuk melihatnya. 

takut takut aku mengetikkan namanya pada kolom search sebuah status jejaring sosial. ya, memang tidak seharusnya aku melakukan itu, apalagi dengan adanya fakta bahwa ia telah memiliki wanita idaman lain. tapi aku tetap ingin melihatnya. 

***

aku tidak pernah memintanya datang membawa sebongkah harapan untuk menyukaiku. dia datang begitu saja, berdiri di depan pagar kosanku, mengajakku makan dan ngobrol gak jelas. bahkan, tanpa kusadari ia telah menyalakan api di depan mataku, ia membawa hatiku dan menentengnya ringan. tidak tahukah ia kalau itu sebuah barang berharga? entah, tapi aku merasa tidak berdaya untuk merampasnya kembali walaupun aku tau aku tidak bisa menyentuh miliknya.


satu bulan


dua bulan


tiga bulan


ia menjatuhkan hatiku dari tangannya. terpecah belah sudah semuanya tanpa bisa kuperbaiki lagi. tidak bisakah ia mengembalikannya saja padaku tanpa harus membuangnya? satu hatiku kembali rusak.

dia yang menyalakan api itu, menyebabkan semua hancur menjadi abu. haruskah aku juga yang memadamkannya?

Bagi kaum adam seperti dia, berpikirkah mereka kalau kaum hawa sepertiku tidak memiliki cadangan hati lagi? berpikirkah mereka apa yang akan terjadi jikalau hati ini sudah pernah tergores sebelumnya? berpikirkah mereka betapa sakitnya untuk memperbaiki sebuah luka yang tidak pernah terlihat? bahkan tenaga saja sudah hilang untuk meraba luka yang tidak akan pernah ditemukan ini.

***
tidak ada yang bisa disalahkan karena Tuhan menciptakan "patah hati". mungkin, tinggal bagaimana agar kita tau cara untuk menjaga hati kita agar selalu baik dan terjaga. 


aku juga tidak bisa menyalahkan dia yang pergi begitu saja meninggalkanku karena, toh aku tidak pernah memintanya datang. ya bukan?


***
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate ;))