jantungku berdegup kencang
memanggil namanya seakan mengeluarkan seluruh tenagaku
saat ia menolehkan mukanya, ada rasa ingin berlari menghampirinya
tapi tetap saja, langkah ini terasa berat.
aku menarik napas panjang, mencoba tegar dan mengalihkan pikiranku
aku tersenyum lalu duduk disampingnya
dia pun menatapku, aku hanya membalasnya dengan tersenyum
dia mengeluarkan satu patah dua patah kata dan aku masih juga tersenyum
butuh energi besar untuk terlihat tegar di depannya
aku harus dan akan terlihat baik-baik saja.
"jadi gimana?" dia memulai pembicaraan
"Apanya?"
"hubungan kita.."
aku menatapnya. agar ia bisa menuntunku untuk menjawab pertanyaannya.
"kita udah putus kan?" aku menimpali
"iyaa, yakin? aku terserah kamu" simple dan menyakitkan
entah memang aku yang terlalu gengsi atau dia yang terlalu jahat
aku nggak akan men-judge apapun tentang dirinya
dia tetap seseorang yang menduduki posisi penting di hati aku. setidaknya, pernah untuk beberapa minggu terakhir ini.
saat tadi bersamanya, aku hanya membuka topik topik nggak penting, aku hanya tersenyum sekali kali, dan melihat wajahnya. aku hanya ingin bersamanya.
aku ingin menghabiskan waktuku bersamanya, aku ingin bersender di bahunya.
bahkan aku menolak ketika diajak pulang. lagi, karena aku masih ingin bersamanya.
sampai pada suatu menit dimana dia memutuskan untuk pulang duluan dan aku masih juga keukeuh tinggal sendiri di hall gelanggang. dia mengulurkan tangannya mengajakku bersalaman. kubalas uluran tangannya. "aku minta maaf udah nyakitin kamu" he said. kembali, aku hanya tersenyum. it's okay..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar