Dengan tangan gemetar dan gigi yang tidak bisa merapat aku menyapamu. Setelah sekian tahun kita tidak bertemu, ada rasa ingin melihatmu lebih lama, memperhatikan setiap inchi perubahan yang terjadi pada dirimu. membuat jejak dan menapaki arti dari kehidupan kupikir tidak membuat tampilanmu banyak berubah. tetap menjadi seorang pria tegap dengan pakaian yang rapih.
dear pencuri hati,
kupikir aku tidak pernah sempat mengenalmu dekat. aku selalu mengagumimu dari jauh. dengan postur badan yang terbilang tinggi, alis tebal, pantai bermain gitar, selalu optimis dan rajin belajar, juga pintar main basket. (iya, typically an "it" guy banget) itulah mengapa aku menyukaimu dan tidak pernah berani mengatakannya. sebagai perempuan, gengsiku memang tebilang tinggi. sangat malah. apalagi dengan doktrin-doktrin dari sesepuh tentang wanita mengejar pria (ya, ini tidak usah dibahas) membuatku terhenti dan tidak berani melangkah duluan.
dear pencuri hati,
aku pernah menyia-nyiakanmu pada tahun itu, saat kita masih mengemban ilmu di sekolah menengah. sudah kau nyatakan rasa suka padaku, namun aku terdiam dan meninggalkanmu. aku tidak bisa meninggalkannya, lelaki lain itu. lelaki yang telah menjadi pasanganku sebelumnya. jadi, sekali lagi, aku tetap menyimpan rasa itu di hatiku.
---
namun kini, waktu telah berjalan menambah umurnya. kita pun menjamah dunia kedewasaan. entah berapa tahun sudah sejak terakhir melihatmu. kamu berubah menjadi pribadi dewasa dengan suara yang lebih tegas. kepribadianmu yang jujur dan berkelas, masih garing seperti dulu namun aku tetap menyukainya. kamu selalu berusaha membuatku merasa nyaman dan tidak bosan. aku rasa, aku baru bisa mengenalmu saat kemarin itu. ada banyak sekali sifat ajaibmu yang tidak aku ketahui. kamu bahkan sangat apik dan bersih. kita memang sudah kenal sejak duduk di bangku SD, namun tidak pernah sempat mengenal sifat satu sama lain. iya kan? aku harap hari kemarin itu bisa terulang lagi. sayang, jalan denganmu membuatku mengenalmu lebih dekat. mengenalmu lebih dekat membuatku semakin ingin memilikimu seutuhnya.
aku tidak mengerti mengapa kamu mengajakku keluar berdua saja kemarin. sangat tiba-tiba dan tidak beralasan. bahkan bukan untuk perayaan ulang tahunmu, bukan? apa iya?
kamu memenuhi segala keinginanku. tidakkah kamu tau aku bisa salah sangka dengan kebaikanmu? tidakkah kamu menyadari hati ini masih juga mengagumimu? taukah kamu saat melihat namamu bertengger di barisan "new message" di hapeku aku akan memasang sabuk pengaman agar badanku tetap aman karena antusias yang berlebih? sampai saat ini aku masih ingin mengintip isi hatimu, minimal isi pikiranmu. kumohon, hanya sedikit.
ya, aku akan menumpahkan segala perasaanku padamu disini. kuharap kamu bisa membacanya suatu saat nanti. dengan sifat ke-geer-an dan ke-sok tau-an mu kupikir kamu akan sadar kalau surat ini tertuju untukmu.
dear pencuri hati,
entah bagaimana bisa perasaan ini terus tersimpan dengan baik di tempatnya. aku bahkan salah menyebut namamu kemarin dengan nama salah satu teman dekatku. aku minta maaf dan sangat menyesal. kebodohanku yang selalu saja terjadi, bisa-bisanya itu terjadi saat bersamamu. aku sangat amat menyesal, kegrogian itu membuatku tidak bisa mengontrol mulutku sendiri. tapi, itu juga karena kita jarang sekali pergi bareng bahkan tidak pernah. baru kali ini kamu mengajakku jalan-jalan dan aku bisa memanggilmu sepuasnya. biasanya, aku cuman bisa memperhatikanmu lewat jendela kelas dan pura-pura ngobrol saat kamu mendekat. iya, jangan meledekku lagi. aku memang wanita pemalu yang selalu ingin loncat jantungnya saat berada dekat denganmu.
hey, tapi aku melihat fotomu bersama seorang wanita bertengger di dompetmu. memang tidak jelas dan hanya sekilas karena kamu langsung menutup dompetmu. sedikit menyakiti perasaanku. tapi dengan begitu, kupikir kita impas bukan? aku menyebutmu dengan nama temanku. at least, kita sama-sama tidak fokus. atau apalah namanya. mungkin kita sama-sama tidak tau. ah!
hey, tapi aku melihat fotomu bersama seorang wanita bertengger di dompetmu. memang tidak jelas dan hanya sekilas karena kamu langsung menutup dompetmu. sedikit menyakiti perasaanku. tapi dengan begitu, kupikir kita impas bukan? aku menyebutmu dengan nama temanku. at least, kita sama-sama tidak fokus. atau apalah namanya. mungkin kita sama-sama tidak tau. ah!
ingin sekali aku tanyakan alasanmu mengajakku. kamu membuka kunci hati ini dan meninggalkannya terbuka. mungkin aku akan mulai berpikir itu karena kita teman lama dan harus bertemu untuk menjalin silahturahmi. entah bagaimana ceritanya, waktu tidak pernah menjawab. cerita kita mungkin akan selalu seperti ini. tersimpan rapat dalam hati masing-masing.
dear wa
dari wanita yang diam-diam menyukaimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar