Sabtu, 30 November 2013

Overly Attached (part 4)

Maybe this is the end of the story. (who knows?)

Malam itu, aku memutuskan untuk pergi ke wisma MM. Aku dengar keita sedang sakit dan akan istirahat di kamar hotel. Aku pergi ditemani oleh Adit, tapi dia menunggu di mobil karena terlalu malas berbasa-basi dengan para Japaners ini.

Sudah satu tahun sejak pertemuan aku dengan anak-anak HUE. Telponan via line udah hampir gak pernah. Skype-an apalagi. Nyapa di twitter pun tidak seintensif dulu. Sekali-kali kita hanya saling nge-like foto atau status di facebook. 

Sebelum naik ke lantai atas, aku mampir di resepsionis untuk bertanya tamu dari HUE atas nama keita ada di kamar nomor berapa. kan gak lucu kalo nanti nebak-nebak trus salah. Mana sekarang anak-anak HUE yang datang sudah beda jaman. Junior semua boook!

"Misi mas, murid HUE atas nama Keita ada di kamar berapa ya?"
"Keita siapa ya namanya?"
"hmm.. kurang tau mas, emang keita-keitaan gitu gak ada?"
"oh iya ada nih.. 306. Saya pastikan dulu dia ada di kamar atau tidak yah."
Lalu aku menunggu sejenak sambil dia menelepon kamar 306. 
"ada mbak." aku hanya membalas dengan anggukan sambil tersenyum dan berjalan mengarah pada lift.
tok tok tok.. aku mengetuk pintu dan memanggil namanya, "keitaa" agak lama untuk Keita membuka pintu. mungkin karena dia sedang sakit jadi sulit bergerak (?). 
"Imeruu!" dia menampilkan tawa khasnya. Terlihat sedikit malu-malu dan tampak surprised. Iyalah, aku udah gak ikut lagi kegiatan HUE. Saat ini bahkan udah kunjungan keduanya HUE lagi sejak aku ikut jadi tour guide mereka. Musim lalu, aku ikut hanya beberapa kali, sedangkan yang sekarang, blast! totally gak ikut sama sekali. Awalnya sempet ditawarin ikut sama Angga, IUP 2011 tapi lagi gabisa dan akhirnya gak ikut semua rangkaian acaranya. Nggak mau menyesal, aku main-main deh ke MM sekalian jenguk Keita. Tapi sayang, MM nya lagi sepi. Anak-anak HUE lagi dinner di luar. Untunglah siangnya aku udah sempet ketemu beberapa anak HUE yang aku kenal di kampus. Jadi, no reget!

Pertemuan aku sama Keita juga gak berlangsung lama. Keita lagi sakit dan butuh istirahat sepertinya. Selama pertemuan aku cuman senyum-senyum aja sama Keita. Haha. Salting lagi deh. Capek deh.. nggak deng, bingung aja mau ngomong apaan. Ngomong inggris dia gak terlalu ngerti. Indonesia sama aja, Jepang akunya yang gak ngerti. Udah gitu Keita lagi pake masker. Makin sulit perbincangan antara aku dan Keita. Jadi, kita sudahi saja segala basa-basi ini. Aku memberikannya dodol lombok yang aku beli sebelum pulang KKN (by the way, aku belum cerita sama sekali tentang KKN...). Setelah itu, aku menyuruhnya istirahat dan pulang kembali ke pangkuan Adit. 
 
A very short meeting.

Kupikir, Janji antara aku dan Keita hanya akan menjadi sebuah janji. Tidak ada sushi buatan Keita atau foto salju. Hei! tapi aku belum bilang kalau sekarang aku udah punya cowok. This girl finally got her precious boy. 

FYI, waktu Keita manggil nama aku, dia nunjukkin tangannya yang lagi make gelang pemberian aku. agak speechless karena aku gak make handband dari dia ataupun gelangnya.
Well, aku masih nyimpen barang-barang itu di laci meja belajar. Tanda persahabatan. 

See you, Keita..

imeliacynthia.




Hanya cara mencintai kita yang berbeda

Tuhan menciptakan setiap individu dengan keunikannya masing-masing. Sifat buruk setiap orang akan menjadi penyelaras sifat baiknya. Seperti ilmu akuntansi, sisi kanan pada neraca harus sama dengan sisi kiri di neraca. Balance kalau kata orang-orang. Dan tidak ada yang sama. Mustahil di dunia ini individu yang sempurna, karena kesempurnaan itu hanya milik Tuhan.

Satu lagi sifatmu yang membuat aku sadar bahwa kita diciptakan berbeda. Termasuk dalam cara mencintai. Betapa keraspun aku memberitahumu bagaimana ingin aku dicintai. Kamu akan tetap seperti itu. Melalang buana seperti burung yang terbang bebas di angkasa lalu kembali untuk memberikan makan pada anaknya. Aku yakin, sang Ibu burung pasti mencintai anaknya. Toh, dia mencarikan makanan agar anaknya tumbuh dengan baik walaupun sang anak tidak harus ikut ibunya. Begitu pula dengan kamu. Kamu mencari segala jenis kegiatan. Lomba, seminar, nonton pidato beberapa orang hebat, bahkan berbisnis. Kamu tidak lagi menyisihkan banyak waktu untuk bersenang-senang denganku. Kamu mulai sibuk, waktumu habis untuk mematangkan diri sebagai pria. Kamu selalu bilang semua ini untuk aku juga. Saat kamu sudah memiliki cukup uang, kita bisa menikah, punya rumah, lalu membesarkan anak-anak yang hebat. Kamu bilang, kegiatan-kegiatan itu hanyalah awal untuk memulai kehidupan bersamaku. Jujur, aku terenyuh.

Kamu adalah orang yang penuh semangat. Kamu adalah sosok yang tidak ingin terlihat lemah. Tidak ingin kalah, selalu berusaha dan optimis. Aku bahkan tidak sungkan untuk berkata "Ayahku pasti suka denganmu". Kamu selalu melihat ke depan, selalu menyiapkan segala macam hal dengan matang. Kamu paham dengan segala resiko terkait keputusanmu. Bahkan saat aku marah, kamu hanya akan bilang bahwa kita udah sama-sama dewasa. Kita tau apa yang baik dan benar untuk diri masing-masing.

Kalau aku mencintaimu dengan cara menyediakan sarapan setiap hari, menanyakan keadaanmu tiap saat, menelponmu setiap malam saat kita terpisah jarak, menghampirimu saat marah.. dan kamu tidak. Aku tidak akan lagi menyalahkanmu. Aku tidak akan lagi menceramahimu karena aku merasa tidak dicintai hanya karena perlakuanmu yang berbeda dengan perlakuanku. Karena kita diciptakan berbeda. Begitu pula dengan cara mencintai. Aku tau kamu mencintaiku dengan segala usahamu. Walau kamu tidak menelponku tiap malam, walau kamu tidak selalu mengirimi aku pesan pendek, walau kamu tidak muncul di depan pintu kamarku untuk meredam amarahku, aku tetap percaya dengan perasaanmu. Dengan segala sikapmu yang rela menahan kantuk untuk bersamaku, dengan usahamu yang ingin mensejahterakanku, dengan kepercayaanmu memberikan aku tanggung jawab, dengan kedewasaanmu.

Bukanlah sebuah masalah untuk memiliki cara yang berbeda saat perasaan dalam satu tujuan.

with love,
imeliacynthia

Jumat, 29 November 2013

Berbicara masa lalu

Hari itu hari Selasa, 19 November 2013. Dua hari sebelumnya aku membuat janji dengan salah satu temanku untuk datang ke wisudaan cempluk, teman suka dukaku waktu dulu di marching band. Setelah kuliah, aku bersama dengan temanku membeli satu buket bunga special untuknya. Kira-kira pukul setegah sebelas aku sudah ada di GSP menunggu dia keluar. Tubuh mungilnya dibalut dengan toga hitam. Mukanya beralaskan make up hingga memberikan kesan dewasa dan cantik tentunya. 

Tidak ada acara formal saat itu. Aku bertemu dengan teman-teman lama. Bercerita apa yang mereka dan aku lakukan sekarang, berfoto, mengobrol lagi, berfoto lagi, tertawa, saling meledek, cemberut, mendengar permainan beberapa anak brass, tepuk tangan, tertawa lagi. Itulah, kelakuan anak-anak marching band. Selalu ada kerinduan yang tidak bisa diungkap.

Saat hari sudah menjelang siang, GSP terasa semakin pengap dengan keceriaan pada wisudawan dan pengiringnya. Kami, para marchingers, membuat satu lingkaran besar, berpegangan tangan satu sama lain lalu mengumandangkan hymne Gadjah Mada. Perasaan yang sudah lama hilang perlahan merangkak hidup kembali. Keharuan menyelimuti rongga tubuh, seakan kembali pada masa pembentukan diri. Sekali-kali kenangan terlintas di depan mata. Betapa sulitnya memainkan riffle, terus mengulang tos riffle sampai jempol mati rasa, hidung yang kejatuhan flag, lari mengejar saber yang kelempar terlalu tinggi, bahkan melempar flag agar bisa ditangkap sang partner, juga diomelin pelatih yang gemes karena kita gabisa-bisa. Nggak hanya itu, makan tic tac yang menjadi kebiasaan saat TC dan karantina juga numpang lewat. Keceriaan Sekar saat karantina pertama juga jelas tergambar. Aku selalu merindukan sosoknya saat akan mulai display. Sayang, jalannya menuju gpmb terhenti di tengah jalan.

Rutinitas itu, nyanyian hymne, akan selalu menjadi kenangan yang tidak bernilai harganya.

"Mel.. tadi, pas nyanyi hymne ngerasa gak?"
"Apaan Nok?"
"Feels like home.."
Aku tersenyum, "iyah.."

*Happy Graduation by the way :)


What should I do with my life?

What should i do with my life..
Pertanyaan yang selalu terngiang di dalam pikiranku. Aku tau tepatnya setelah lulus dari bangku kuliah aku akan mencari pekerjaan dan lepas dari asuhan orang tua. Mulai menghidupi kehidupan sendiri. Belajar dari pengalaman, mengatasi stres, dan menyisihkan uang untuk kehidupan adik-adikku juga anak-anak lainnya yang kurang beruntung. Tapi, pertanyaan yang sebenarnya adalah.. pekerjaan seperti apa? ide memulai skripsi saja tidak kunjung datang.

Sudah terlambat jika menyesali keadaan. Tidak ada gunanya lagi bermuram hati. Mengeluh seharusnya seharusnya juga hanya membuat pikiran makin sempit. Toh, dunia juga bukan berupa malaikat yang baik hati. Penuh kekejaman dan kepura-puraan.

"Hei! katanya tidak ingin bermuran hati? Untuk apa mengutuk dunia? Mengatainya seolah-olah diri ini yang paling benar. Tidak ada solusi yang lebih baik dari membuka hati. Dunia adalah tempat pengujian. Tuhan tidak mungkin melahirkan kita ke dunia jika tidak ingin kita ikut ujiannya. Jalani saja, jangan lengah. Keraslah pada diri kita sendiri hingga nanti dunia akan luluh."

....................................

Satu sahabat membuatku terdiam. Namun aku juga tidak menemukan jawaban atas pertanyaanku. Jadi, aku harus apa? Hatiku menolak mengikuti perkataannya. Aku ingin pulang saja, kataku padanya.

Kamis, 28 November 2013

Surat yang tidak pernah sampai.


Hai,

It’s been a while since.. no idea since when. Last time we met? Or last time I wrote to you?
It’s raining outside and my mind flying away to yours. How are you in there? Guess I miss you.
Now I’m with someone. Funny one. Gorgeous. Smart. Though. He’s different with you. But He loves me. He just.. doesn’t do whatever I want, but he does whatever I need. Do you like him? I guess you will.

----
Hujan yang turun saat ini sangat deras dan kerinduan perlahan menyelimutiku. Melindungi tubuh ini dari dinginnya angin.
Aku merindukannya. Seperti rembulan merindukan malam. Namun siapa disangka? kamu yang muncul bersama dengan tetesan air dari langit.
Ketika aku berkata kamu akan selalu ada di hatiku. Kamu tidak pernah keluar. Kamu benar-benar ada. Isn’t that funny?
Aku selalu suka hujan. Di saat itu kamu selalu hadir dan mengingatkanku kalau aku tidak sendiri.
Dengan secangkir teh hangat, kamu melengkapiku, menginspirasiku.
Bagaimana bisa aku baru menyadarinya? Kamu hidup dalam ingatanku.
Hanya ada satu kalimat untukmu. Aku.. merindukanmu.
Merindukan kehangatanmu. Tawamu. Senyummu.
Aku ingat akan perhatianmu. Kalimat manismu, ucapan dari bibirmu.
Aku masih bisa merasakan saat pertama kamu menggenggam tanganku.
Aku masih bisa merasakan hangatnya cinta kamu.
Kamu..
Oh, God!

Aku merasa menghianatinya saat mengingatmu.
Tapi.. melihatmu tersenyum seakan tidak ingin aku menghapus bayanganmu.
Kamu tidak lagi memikul beban. Ada keikhlasan dalam senyummu.
Aku menikmatinya. Sangat menikmatinya. Mengingatmu, saat kembali membuka lembaran bersamamu,
membuka halaman yang sudah lama sekali aku tutup.
Aku selalu ingin bertemu denganmu. Kamu tau itu kan?

Maafkan aku tidak ada di saat terakhirmu.
Maafkan aku yang tidak berdaya untuk menggapaimu.
Bahkan saat ini. Maafkan aku karena harus menghapusmu.
Aku mencintainya. Kamu tau kan?
Aku tidak ingin hatiku mendua. Bahkan padamu yang tidak lagi berwujud.
Seperti aku tidak ingin meghianatimu. Seperti aku tidak ingin melihatmu bersedih. Seperti aku tidak ingin kamu sakit. Seperti aku ingin sekali saat ini menggenggam tanganmu. Mengelus rambutmu. Mencium keningmu. Melayanimu. Seperti itulah aku padanya.

So, I guess we’ll find each other peace of mind, don’t we?

Untuk kekasihku yang telah berpulang,

*ditulis saat 15 November 2013

Translate ;))