Kamis, 28 November 2013

Surat yang tidak pernah sampai.


Hai,

It’s been a while since.. no idea since when. Last time we met? Or last time I wrote to you?
It’s raining outside and my mind flying away to yours. How are you in there? Guess I miss you.
Now I’m with someone. Funny one. Gorgeous. Smart. Though. He’s different with you. But He loves me. He just.. doesn’t do whatever I want, but he does whatever I need. Do you like him? I guess you will.

----
Hujan yang turun saat ini sangat deras dan kerinduan perlahan menyelimutiku. Melindungi tubuh ini dari dinginnya angin.
Aku merindukannya. Seperti rembulan merindukan malam. Namun siapa disangka? kamu yang muncul bersama dengan tetesan air dari langit.
Ketika aku berkata kamu akan selalu ada di hatiku. Kamu tidak pernah keluar. Kamu benar-benar ada. Isn’t that funny?
Aku selalu suka hujan. Di saat itu kamu selalu hadir dan mengingatkanku kalau aku tidak sendiri.
Dengan secangkir teh hangat, kamu melengkapiku, menginspirasiku.
Bagaimana bisa aku baru menyadarinya? Kamu hidup dalam ingatanku.
Hanya ada satu kalimat untukmu. Aku.. merindukanmu.
Merindukan kehangatanmu. Tawamu. Senyummu.
Aku ingat akan perhatianmu. Kalimat manismu, ucapan dari bibirmu.
Aku masih bisa merasakan saat pertama kamu menggenggam tanganku.
Aku masih bisa merasakan hangatnya cinta kamu.
Kamu..
Oh, God!

Aku merasa menghianatinya saat mengingatmu.
Tapi.. melihatmu tersenyum seakan tidak ingin aku menghapus bayanganmu.
Kamu tidak lagi memikul beban. Ada keikhlasan dalam senyummu.
Aku menikmatinya. Sangat menikmatinya. Mengingatmu, saat kembali membuka lembaran bersamamu,
membuka halaman yang sudah lama sekali aku tutup.
Aku selalu ingin bertemu denganmu. Kamu tau itu kan?

Maafkan aku tidak ada di saat terakhirmu.
Maafkan aku yang tidak berdaya untuk menggapaimu.
Bahkan saat ini. Maafkan aku karena harus menghapusmu.
Aku mencintainya. Kamu tau kan?
Aku tidak ingin hatiku mendua. Bahkan padamu yang tidak lagi berwujud.
Seperti aku tidak ingin meghianatimu. Seperti aku tidak ingin melihatmu bersedih. Seperti aku tidak ingin kamu sakit. Seperti aku ingin sekali saat ini menggenggam tanganmu. Mengelus rambutmu. Mencium keningmu. Melayanimu. Seperti itulah aku padanya.

So, I guess we’ll find each other peace of mind, don’t we?

Untuk kekasihku yang telah berpulang,

*ditulis saat 15 November 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate ;))