Hari itu hari Selasa, 19 November 2013. Dua hari sebelumnya aku membuat janji dengan salah satu temanku untuk datang ke wisudaan cempluk, teman suka dukaku waktu dulu di marching band. Setelah kuliah, aku bersama dengan temanku membeli satu buket bunga special untuknya. Kira-kira pukul setegah sebelas aku sudah ada di GSP menunggu dia keluar. Tubuh mungilnya dibalut dengan toga hitam. Mukanya beralaskan make up hingga memberikan kesan dewasa dan cantik tentunya.
Tidak ada acara formal saat itu. Aku bertemu dengan teman-teman lama. Bercerita apa yang mereka dan aku lakukan sekarang, berfoto, mengobrol lagi, berfoto lagi, tertawa, saling meledek, cemberut, mendengar permainan beberapa anak brass, tepuk tangan, tertawa lagi. Itulah, kelakuan anak-anak marching band. Selalu ada kerinduan yang tidak bisa diungkap.
Saat hari sudah menjelang siang, GSP terasa semakin pengap dengan keceriaan pada wisudawan dan pengiringnya. Kami, para marchingers, membuat satu lingkaran besar, berpegangan tangan satu sama lain lalu mengumandangkan hymne Gadjah Mada. Perasaan yang sudah lama hilang perlahan merangkak hidup kembali. Keharuan menyelimuti rongga tubuh, seakan kembali pada masa pembentukan diri. Sekali-kali kenangan terlintas di depan mata. Betapa sulitnya memainkan riffle, terus mengulang tos riffle sampai jempol mati rasa, hidung yang kejatuhan flag, lari mengejar saber yang kelempar terlalu tinggi, bahkan melempar flag agar bisa ditangkap sang partner, juga diomelin pelatih yang gemes karena kita gabisa-bisa. Nggak hanya itu, makan tic tac yang menjadi kebiasaan saat TC dan karantina juga numpang lewat. Keceriaan Sekar saat karantina pertama juga jelas tergambar. Aku selalu merindukan sosoknya saat akan mulai display. Sayang, jalannya menuju gpmb terhenti di tengah jalan.
Rutinitas itu, nyanyian hymne, akan selalu menjadi kenangan yang tidak bernilai harganya.
"Mel.. tadi, pas nyanyi hymne ngerasa gak?"
"Apaan Nok?"
"Feels like home.."


T_T aku nggak kebagian hymnenya cintahhh
BalasHapus