Sabtu, 13 Desember 2014

Hakuna Matata

Sangat menakutkan ketika kamu tau bahwa hubunganmu dengan seseorang yang kamu kira akan menjadi Ayah dari anak-anakmu mungkin akan segera berakhir. Ketika kamu tidak sanggup lagi menahan keegoisannya, tidak sanggup lagi mengerti akan jalan pikirannya. Seperti menggenggam arang yang terbakar. Perlahan kamu melepaskan genggaman yang begitu erat namun ternyata luka bakar di tanganmu akan lebih sakit. Tapi kamu tau, bahwa waktu akan menyembuhkan segalanya. Bahwa tanganmu akan baik-baik saja. Tidak akan ada lagi luka.

Hakuna matata.

Sabtu, 19 Juli 2014

Apa adanya aku.

Aku tidak pernah menuntutmu lebih, memintamu lebih, aku tidak keberatan merawatmu, aku tidak marah kamu acuhkan aku. Kamu bilang hidupku drama. Lalu kenapa? Bukankah kamu melarangku untuk marah karena kamu egois? Bukankah kamu ingin dimengerti karena menjadi dirimu sendiri? Maka, biarkanlah aku menjadi diriku sendiri. Biarlah orang bilang hidupku drama, biarlah orang bilang aku over protektif, biarlah orang bilang aku tidak cocok untukmu. Biarlah.. biarlah aku menjadi omongan orang karena selalu ingin tau apa yang kamu lakukan. Biarlah aku menjadi cemoohan orang karena ingin dijadikan layaknya ratu oleh prianya. Biarlah aku dimaki teman-temanmu karena selalu ingin bersamamu. Biarlah. Aku bahkan rela mati untukmu. Kumohon bukakan mataku.

Untuk lelaki yang sedang tidur.

Love,
imeliacynthia

Rabu, 09 Juli 2014

Alasanku mencintainya

Suatu hari aku bertanya pada pria di depanku, "kenapa yah kok kayaknya mimpi aku "too good to be true" terus? mau pulang kampung tanpa bawa beban skripsi aja gak dikabulin." Aku merengut. Lalu dia hanya tertawa tanpa ada renungan yang pasti, tanpa ada jawaban dari keresahanku. 

Pria itu adalah yang kini mendedikasikan hatinya untukku dan ikhlas membuang waktunya untuk menemuiku. Lihatlah kelakuannya. Seringkali dia hanya tertawa saat aku bercerita, sering pula dia hanya memegang tanganku saat aku sedih, atau bahkan dia memalingkan muka dan tidak kembali saat aku marah. Tapi aku tetap mencintainya. Dari sekian banyak "sering sering" yang dia lakukan, ada banyak "kadang kadang" yang tidak sering ia lakukan dan membuatku sadar aku mencintainya. Ada satu waktu dimana ia melakukan segala macam hal yang sedang tidak ingin aku lakukan tanpa harus memerintahnya. Ada pula satu waktu dimana ia memasang muka layaknya orang yang habis melakukan kesalahan dan meminta maaf. Ada juga satu waktu dimana ia mengatakan "aku cuman pengen sama kamu". 

Seringkali aku tidak percaya bahwa dia mencintaiku karena sifat cueknya. Percayalah, aku adalah tipe wanita "ftv" yang ingin dikejar saat marah, yang ingin dielus rambutnya, yang ingin dipuja, diperhatikan, serta dibuat nyaman layaknya ratu. Tapi aku tidak bisa tidak bangga padanya. Dengan sifat super cueknya itu, percayalah, dia akan menomorduakanku demi bola kesayangannya, demi skripsinya, demi membantu temannya, namun dia akan tetap berusaha untuk menebus kelakuannya itu, menomorduakanku. 

Aku tidak punya alasan untuk tidak mencintainya.
love,
imeliacynthia.  

Minggu, 02 Maret 2014

Someday.. when I die.

Dihitung-hitung, sudah 13 bulan aku bersamanya. Lelaki yang kini sangat aku banggakan. Memang, 13 bulan bukanlah waktu yang cukup lama untuk membicarakan jenjang yang lebih tinggi lagi. Bukan pendidikan kami, menikah maksutku. Tingkat dimana aku akan secara resmi menjadi tulang rusuknya. Menjadi dua insan yang bersatu menjadi halal. Tidak ada lagi prasangka buruk ketika kami hanya berdua. Layaknya yang diinginkan setiap pasangan.

Namun begitu, kami kerap kali membicarakan masa depan. Pembicaraan masa depan adalah topik yang teramat menarik. Kami dapat tertawa mendengar khayalan tentang bagaimana rumah kami nantinya, berapa kamar yang ada, akan pelihara binatang apa. Seperti apa pernikahan kami. Pre-wed pake baju apa, kemana kami akan bulan madu. Daaan hal seru lainnya. 

Tapi kali ini berbeda. Kami berbicara lebih serius. Kami tau dengan pasti kemana hubungan ini akan dibawa. Aku dengannya bukanlah anak kecil ababil yang hanya bermain dengan lawan jenis. Kami cukup yakin dengan pandangan kami 10 tahun ke depan. Well, kita harus punya mimpi yang besar bukan?

Pembicaraan ini terinspirasi setelah nonton film homefront. Aku memberanikan diri bertanya hal-hal, yang menurutku, beresiko padanya.
"Saat nanti kamu puber kedua, apa kamu akan selingkuh?"
Aku tau itu adalah pertanyaan super bodoh. Setiap pria akan menjawab tidak, bukan? Aku tidak tau bagaimana wanita lain pada umumnya. Tapi terlepas dari seperti apa nantinya. Aku selalu merasa nyaman ketika aku bertanya dan mendengar jawabannya langsung.

Pertanyaan kedua yang (lagi-lagi) secara gamblang aku lontarkan adalah
"Jika suatu hari nanti kita menikah dan punya anak. Lalu aku tiada, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan menikah lagi?"
Dia hanya diam. Aku tau dia ingin menjawab "iya" atau minimal "mungkin". Atau aku hanya sok tau.. ya.. dia hanya diam. Pandangannya tetap lurus ke arah laptop. Aku pikir, dia sedang menyiapkan jawaban agar tidak menyakiti hatiku. Kupikir, sebenarnya dia tau jawaban apa yang kuinginkan. Namun, mungkin (lagi-lagi mungkin), kurasa jawabannya tidak seirama dengan jawabanku. Sekali lagi, aku hanya menebak. Aku bahkan memutar otak untuk menemukan jawabanku sendiri.

"Bagaimana denganmu? Jika aku tiada, apa kamu akan menikah lagi?"
Aku terdiam sejenak mendengarnya melontarkan pertanyaan yang sama denganku.
"Aku cuman ingin tau. Soalnya, kalo nanti aku udah gak ada. Aku gak akan tau apa yang kamu lakuin. Jadi, aku pingin taunya sekarang." Balasku.
"Kamu akan tau." Dia menjawab.
"Gimana caranya? Aku kan udah gak ada..."
Tidak ada yang berkomentar, sampai aku nyeletuk, "aku selalu disamping kamu yah.."

Sebagai perempuan, ada satu sisi saat aku tiada, aku ingin suamiku menikah lagi. Berbahagia dengan wanita yang baru. Aku tau bagaimana manjanya dia saat bersamaku, dan aku tidak akan tega jika tidak ada yang merawatnya. Apalagi jika kami sudah punya anak. Aku ingin anakku merasakan kehangatan seorang ibu.
Namun, ada juga sisi dimana aku ingin mereka hidup apa adanya. Saling mengisi. Tanpa harus ada kehadiran wanita penggantiku. Aku ingin dianggap tidak tergantikan. Hahahaha. Apa aku egois?

"Udahlah gausa ngomongin kayak begituan.." pembicaraan kami akhirnya selesai. Dia memelukku dan aku hanya tersenyum kecil.

Tuhan.. semoga kami diberi umur panjang. Merawat anak kami dan melihat cucu kami tumbuh besar. Sampai saatnya kami menikmati hidup, menjadi tua, dan selalu tertawa. Hingga pada saatnya, kami siap menghadap-Mu. 

Translate ;))