Rabu, 09 Juli 2014

Alasanku mencintainya

Suatu hari aku bertanya pada pria di depanku, "kenapa yah kok kayaknya mimpi aku "too good to be true" terus? mau pulang kampung tanpa bawa beban skripsi aja gak dikabulin." Aku merengut. Lalu dia hanya tertawa tanpa ada renungan yang pasti, tanpa ada jawaban dari keresahanku. 

Pria itu adalah yang kini mendedikasikan hatinya untukku dan ikhlas membuang waktunya untuk menemuiku. Lihatlah kelakuannya. Seringkali dia hanya tertawa saat aku bercerita, sering pula dia hanya memegang tanganku saat aku sedih, atau bahkan dia memalingkan muka dan tidak kembali saat aku marah. Tapi aku tetap mencintainya. Dari sekian banyak "sering sering" yang dia lakukan, ada banyak "kadang kadang" yang tidak sering ia lakukan dan membuatku sadar aku mencintainya. Ada satu waktu dimana ia melakukan segala macam hal yang sedang tidak ingin aku lakukan tanpa harus memerintahnya. Ada pula satu waktu dimana ia memasang muka layaknya orang yang habis melakukan kesalahan dan meminta maaf. Ada juga satu waktu dimana ia mengatakan "aku cuman pengen sama kamu". 

Seringkali aku tidak percaya bahwa dia mencintaiku karena sifat cueknya. Percayalah, aku adalah tipe wanita "ftv" yang ingin dikejar saat marah, yang ingin dielus rambutnya, yang ingin dipuja, diperhatikan, serta dibuat nyaman layaknya ratu. Tapi aku tidak bisa tidak bangga padanya. Dengan sifat super cueknya itu, percayalah, dia akan menomorduakanku demi bola kesayangannya, demi skripsinya, demi membantu temannya, namun dia akan tetap berusaha untuk menebus kelakuannya itu, menomorduakanku. 

Aku tidak punya alasan untuk tidak mencintainya.
love,
imeliacynthia.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate ;))