Dihitung-hitung, sudah 13 bulan aku bersamanya. Lelaki yang kini sangat aku banggakan. Memang, 13 bulan bukanlah waktu yang cukup lama untuk membicarakan jenjang yang lebih tinggi lagi. Bukan pendidikan kami, menikah maksutku. Tingkat dimana aku akan secara resmi menjadi tulang rusuknya. Menjadi dua insan yang bersatu menjadi halal. Tidak ada lagi prasangka buruk ketika kami hanya berdua. Layaknya yang diinginkan setiap pasangan.
Namun begitu, kami kerap kali membicarakan masa depan. Pembicaraan masa depan adalah topik yang teramat menarik. Kami dapat tertawa mendengar khayalan tentang bagaimana rumah kami nantinya, berapa kamar yang ada, akan pelihara binatang apa. Seperti apa pernikahan kami. Pre-wed pake baju apa, kemana kami akan bulan madu. Daaan hal seru lainnya.
Tapi kali ini berbeda. Kami berbicara lebih serius. Kami tau dengan pasti kemana hubungan ini akan dibawa. Aku dengannya bukanlah anak kecil ababil yang hanya bermain dengan lawan jenis. Kami cukup yakin dengan pandangan kami 10 tahun ke depan. Well, kita harus punya mimpi yang besar bukan?
Pembicaraan ini terinspirasi setelah nonton film homefront. Aku memberanikan diri bertanya hal-hal, yang menurutku, beresiko padanya.
"Saat nanti kamu puber kedua, apa kamu akan selingkuh?"
Aku tau itu adalah pertanyaan super bodoh. Setiap pria akan menjawab tidak, bukan? Aku tidak tau bagaimana wanita lain pada umumnya. Tapi terlepas dari seperti apa nantinya. Aku selalu merasa nyaman ketika aku bertanya dan mendengar jawabannya langsung.
Pertanyaan kedua yang (lagi-lagi) secara gamblang aku lontarkan adalah
"Jika suatu hari nanti kita menikah dan punya anak. Lalu aku tiada, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan menikah lagi?"
Dia hanya diam. Aku tau dia ingin menjawab "iya" atau minimal "mungkin". Atau aku hanya sok tau.. ya.. dia hanya diam. Pandangannya tetap lurus ke arah laptop. Aku pikir, dia sedang menyiapkan jawaban agar tidak menyakiti hatiku. Kupikir, sebenarnya dia tau jawaban apa yang kuinginkan. Namun, mungkin (lagi-lagi mungkin), kurasa jawabannya tidak seirama dengan jawabanku. Sekali lagi, aku hanya menebak. Aku bahkan memutar otak untuk menemukan jawabanku sendiri.
"Bagaimana denganmu? Jika aku tiada, apa kamu akan menikah lagi?"
Aku terdiam sejenak mendengarnya melontarkan pertanyaan yang sama denganku.
"Aku cuman ingin tau. Soalnya, kalo nanti aku udah gak ada. Aku gak akan tau apa yang kamu lakuin. Jadi, aku pingin taunya sekarang." Balasku.
"Kamu akan tau." Dia menjawab.
"Gimana caranya? Aku kan udah gak ada..."
Tidak ada yang berkomentar, sampai aku nyeletuk, "aku selalu disamping kamu yah.."
Sebagai perempuan, ada satu sisi saat aku tiada, aku ingin suamiku menikah lagi. Berbahagia dengan wanita yang baru. Aku tau bagaimana manjanya dia saat bersamaku, dan aku tidak akan tega jika tidak ada yang merawatnya. Apalagi jika kami sudah punya anak. Aku ingin anakku merasakan kehangatan seorang ibu.
Namun, ada juga sisi dimana aku ingin mereka hidup apa adanya. Saling mengisi. Tanpa harus ada kehadiran wanita penggantiku. Aku ingin dianggap tidak tergantikan. Hahahaha. Apa aku egois?
"Udahlah gausa ngomongin kayak begituan.." pembicaraan kami akhirnya selesai. Dia memelukku dan aku hanya tersenyum kecil.
Tuhan.. semoga kami diberi umur panjang. Merawat anak kami dan melihat cucu kami tumbuh besar. Sampai saatnya kami menikmati hidup, menjadi tua, dan selalu tertawa. Hingga pada saatnya, kami siap menghadap-Mu.
Pembicaraan ini terinspirasi setelah nonton film homefront. Aku memberanikan diri bertanya hal-hal, yang menurutku, beresiko padanya.
"Saat nanti kamu puber kedua, apa kamu akan selingkuh?"
Aku tau itu adalah pertanyaan super bodoh. Setiap pria akan menjawab tidak, bukan? Aku tidak tau bagaimana wanita lain pada umumnya. Tapi terlepas dari seperti apa nantinya. Aku selalu merasa nyaman ketika aku bertanya dan mendengar jawabannya langsung.
Pertanyaan kedua yang (lagi-lagi) secara gamblang aku lontarkan adalah
"Jika suatu hari nanti kita menikah dan punya anak. Lalu aku tiada, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan menikah lagi?"
Dia hanya diam. Aku tau dia ingin menjawab "iya" atau minimal "mungkin". Atau aku hanya sok tau.. ya.. dia hanya diam. Pandangannya tetap lurus ke arah laptop. Aku pikir, dia sedang menyiapkan jawaban agar tidak menyakiti hatiku. Kupikir, sebenarnya dia tau jawaban apa yang kuinginkan. Namun, mungkin (lagi-lagi mungkin), kurasa jawabannya tidak seirama dengan jawabanku. Sekali lagi, aku hanya menebak. Aku bahkan memutar otak untuk menemukan jawabanku sendiri.
"Bagaimana denganmu? Jika aku tiada, apa kamu akan menikah lagi?"
Aku terdiam sejenak mendengarnya melontarkan pertanyaan yang sama denganku.
"Aku cuman ingin tau. Soalnya, kalo nanti aku udah gak ada. Aku gak akan tau apa yang kamu lakuin. Jadi, aku pingin taunya sekarang." Balasku.
"Kamu akan tau." Dia menjawab.
"Gimana caranya? Aku kan udah gak ada..."
Tidak ada yang berkomentar, sampai aku nyeletuk, "aku selalu disamping kamu yah.."
Sebagai perempuan, ada satu sisi saat aku tiada, aku ingin suamiku menikah lagi. Berbahagia dengan wanita yang baru. Aku tau bagaimana manjanya dia saat bersamaku, dan aku tidak akan tega jika tidak ada yang merawatnya. Apalagi jika kami sudah punya anak. Aku ingin anakku merasakan kehangatan seorang ibu.
Namun, ada juga sisi dimana aku ingin mereka hidup apa adanya. Saling mengisi. Tanpa harus ada kehadiran wanita penggantiku. Aku ingin dianggap tidak tergantikan. Hahahaha. Apa aku egois?
"Udahlah gausa ngomongin kayak begituan.." pembicaraan kami akhirnya selesai. Dia memelukku dan aku hanya tersenyum kecil.
Tuhan.. semoga kami diberi umur panjang. Merawat anak kami dan melihat cucu kami tumbuh besar. Sampai saatnya kami menikmati hidup, menjadi tua, dan selalu tertawa. Hingga pada saatnya, kami siap menghadap-Mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar