Ini weekend keempat yang kita habiskan bersama. Dan menjadi malam kamu akhirnya memutuskan untuk tidak bersamaku. Kamu putuskan untuk melepasku terbang kembali. Tahukah kamu? malam itu, mengulang semua kenanganku bersama dengan pria sebelum kamu. Pria yang sama sekali tidak ingin aku ingat lagi. Semua memori itu, melayang dalam pikiranku. Menghantui langkahku saat aku ingin percaya pada makhluk Tuhan yang disebut pria.
Malam itu, aku hanya bisa tersenyum saat kau mengatakan tidak bisa. Tidak siap bersamaku. Tidak ada kata yang bisa kuucap dari mulutku. Walau ku tau yang kuinginkan. Kuingin kamu berhenti, berhenti mengatakan semua yang ingin kamu katakan. Dan biarkan aku pulang dengan membawa sisa-sisa kebahagian bersamamu. Namun mulut ini terkunci, membiarkanmu tetap berbicara sampai hatimu lega. Kamu bisa melepasku sekarang dan kembali pada realita. Dunia dimana tidak ada tuan putri dan pangeran.
Aku menertawai diriku. Aku tidak menyalahkanmu dengan keputusan yang kamu ambil. Aku merasa menjadi wanita bodoh, jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya. Aku tidak bisa mendefinisikan perasaanku. Aku sedih, mendengar keputusanmu. Sedih dengan semua kalimat yang kamu utarakan. Setidak pantas itu kah aku? Aku hanya ingin menjadi ainun bagi habibinya. Menjadi penyemangat, menjadi tawa dikala sedih. Mungkin terlampau tinggi keinginanku. Pada akhirnya aku hanya bisa menjadi aku.
Aku pun marah.. pada diriku sendiri. Aku benci pada diriku yang selalu dengan mudah bisa menyukaimu, yang dapat larut dalam buaianmu serta terpukau dengan kalimat serta tindakanmu. Aku benci pada diriku yang tidak bisa menahan kamu agar tetap berdiri di depan pintu hati ini. Aku benci membiarkanmu merusak hatiku yang telah susah payah aku tata kembali.
****
Aku dan kamu, sepasang manusia yang hidup di dunia fana.
Berharap pada restu Tuhan untuk bisa saling bersama.
love,
imeliacynthia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar